Inflasi Nunukan September 2026 Capai 2,24 Persen, Cabai Rawit Jadi Penyumbang Terbesar
![]()

TERASNKRI.COM | NUNUKAN, KALTARA – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nunukan mencatat inflasi tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 2,24 persen pada September 2026, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 111,51. Kenaikan harga cabai rawit menjadi salah satu penyumbang terbesar terhadap inflasi di Kabupaten Nunukan.
Berdasarkan Berita Resmi Statistik BPS Kabupaten Nunukan yang dirilis 1 Oktober 2026, inflasi bulanan (month-to-month/mtm) tercatat sebesar 0,59 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) mencapai 1,98 persen.
Secara tahunan, inflasi Nunukan terjadi seiring kenaikan harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran. Kenaikan tertinggi tercatat pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 6,49 persen, disusul penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 5,28 persen, serta perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 3,91 persen.
Kelompok kesehatan mengalami inflasi sebesar 2,91 persen, transportasi 2,02 persen, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 1,94 persen, serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,62 persen. Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 1,53 persen.
Cabai Rawit Beri Andil Terbesar
BPS mencatat cabai rawit menjadi komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi tahunan, yakni 0,58 persen. Komoditas lainnya yang turut memberikan andil antara lain emas perhiasan sebesar 0,30 persen, nasi dengan lauk 0,24 persen, beras 0,11 persen, serta batu bata atau batu tela sebesar 0,09 persen.
Pada periode bulanan September 2026, cabai rawit juga menjadi penyumbang utama inflasi dengan andil sebesar 0,46 persen. Komoditas lain yang turut memberikan andil meliputi telur ayam ras dan emas perhiasan, masing-masing sebesar 0,03 persen, serta tarif dokter umum dan ikan bandeng, masing-masing sebesar 0,02 persen.
Di sisi lain, sejumlah komoditas mengalami penurunan harga secara tahunan. Tomat memberikan andil deflasi sebesar 0,28 persen, bawang merah 0,14 persen, telur ayam ras 0,07 persen, dan bayam 0,06 persen.
Inflasi Masih Tercatat di Berbagai Kelompok Pengeluaran
Kenaikan harga juga terjadi pada kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran. Kelompok ini mengalami inflasi tahunan sebesar 5,28 persen dengan andil terhadap inflasi umum sebesar 0,46 persen. Komoditas yang berkontribusi antara lain nasi dengan lauk, kue kering berminyak, sate, ayam goreng, soto, dan bakso siap santap.
Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tahunan tertinggi, yaitu 6,49 persen, dengan andil sebesar 0,36 persen. Kenaikan pada kelompok ini terutama dipengaruhi emas perhiasan yang memberikan andil 0,30 persen.
Perkembangan inflasi tersebut menunjukkan bahwa pergerakan harga kebutuhan sehari-hari, makanan siap saji, serta sejumlah barang dan jasa masih memengaruhi biaya hidup masyarakat Kabupaten Nunukan.
Data BPS ini menjadi gambaran perkembangan harga konsumen di Nunukan pada September 2026, dengan inflasi bulanan sebesar 0,59 persen dan inflasi tahunan sebesar 2,24 persen. (TN/BPS Nnkn)
