Nunukan

Harga BBM Malaysia Tembus Rp25 Ribu, Warga Sebatik Desak Penambahan Kuota BBM Subsidi

Loading

TERASNKRI.COM | NUNUKAN, KALTARA – Masyarakat di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, kini terjepit di tengah lonjakan harga BBM asal Malaysia dan tidak stabilnya pasokan BBM bersubsidi dari dalam negeri. Harga bensin Malaysia di tingkat pengecer dilaporkan meroket hingga menyentuh angka Rp22.000 hingga Rp25.000 per botol ukuran 0,8 liter.

Baca Juga  Wakil Bupati Nunukan Sambut Panglima TNI di Sebuku, Momentum Perkuat Perhatian untuk Wilayah Perbatasan

Melonjaknya harga BBM dari negara tetangga tersebut terjadi bersamaan dengan kelangkaan stok di sejumlah SPBU, APMS, dan Pertashop di wilayah Sebatik dalam sepekan terakhir.

Kondisi ini memaksa warga membeli BBM Malaysia dengan harga dua kali lipat demi menjaga mobilitas harian.

“Terpaksa beli (BBM Malaysia), daripada tidak bisa beraktivitas. Harganya sekarang Rp22 ribu, bahkan sempat Rp25 ribu per botol saat barang langka,” ujar salah seorang warga Sebatik pada media ini, Jumat (3/4/2026).

Baca Juga  Pelantikan 208 Pejabat, Bupati Tegaskan Sistem Merit dan Evaluasi Kinerja 6 Bulan

Menurut warga, ketergantungan terhadap BBM Malaysia muncul lantaran stok Pertalite seharga Rp10.000 per liter di agen resmi sering kosong.

Meskipun kualitas BBM Malaysia dinilai setara Pertamax, harganya yang selangit sangat memberatkan ekonomi pelaku usaha kecil dan pekerja harian di perbatasan.Menanggapi krisis energi ini, warga berharap Pemerintah Kabupaten Nunukan segera mengambil langkah nyata dengan mengabil langkah meminta penambahan kuota BBM untuk SPBU dan APMS di wilayah Sebatik.

Baca Juga  Pemkab Nunukan Serahkan LKPD TA 2025 ke BPK RI Perwakilan Kalimantan Utara

Intervensi pemerintah sangat dinantikan untuk memastikan distribusi energi di wilayah perbatasan berjalan optimal, sehingga masyarakat tidak lagi terbebani oleh tingginya harga BBM lintas negara di masa mendatang. (TN/Shr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *