Kalawon Saraton: Menaklukkan Giram Sadalir Demi Merajut Harapan di Ujung Lumbis
![]()

TERASNKRI.COM | NUNUKAN, KALTARA – Suara raungan mesin longboat memecah keheningan hutan tropis di perbatasan Indonesia-Malaysia, Sabtu (7/2/2026). Di atas perahu kayu yang ramping itu, Bupati Nunukan, H. Irwan Sabri, S.E., tampak siaga dengan jaket pelampung, matanya tajam menatap riak air yang mulai bergejolak.
Hari itu, perjalanan dinas berubah menjadi sebuah ekspedisi fisik yang menguji nyali. Targetnya adalah Lumbis Hulu, wilayah di mana akses darat masih menjadi mimpi, dan sungai adalah satu-satunya urat nadi kehidupan.
Bertarung dengan Giram Sadalir
Perjalanan menuju hulu bukanlah wisata air biasa. Sungai Sadalir dikenal memiliki jeram-jeram ekstrem atau yang oleh warga lokal disebut sebagai giram. Bebatuan purba yang tersembunyi di balik arus deras siap mengoyak lambung perahu jika motoris lengah sedetik saja.
Gelombang air besar sesekali menghantam haluan, membasahi pakaian rombongan. Namun, Bupati tetap tenang di posisinya. Baginya, setiap guncangan di atas jeram adalah pengingat harian akan sulitnya aksesibilitas yang dihadapi warga perbatasan selama puluhan tahun.
“Perjalanan ini bukan tentang saya, tetapi tentang masyarakat hulu yang membutuhkan perhatian dan pelayanan yang lebih baik,” ujar Bupati Irwan saat perahu sejenak menepi untuk mengatur napas.
Sambutan Hangat dan Gelar “Kalawon Saraton”
Setelah berjam-jam bertaruh dengan arus, ketegangan itu mencair saat rombongan tiba di tepian perkampungan. Suara tabuhan musik tradisional dan tarian penyambutan menyambut mereka dengan hangat. Warga yang telah menunggu sejak pagi tampak antusias melihat pemimpin daerah mereka rela “berbasah-basahan” demi menemui mereka.
Momen haru terjadi saat para tokoh adat melaksanakan prosesi Ber-semajau. Sebagai bentuk pengakuan atas keberanian dan perhatiannya terhadap warga pedalaman, masyarakat adat menganugerahkan gelar kehormatan kepada Bupati Irwan Sabri, yaitu “Kalawon Saraton”.
Gelar ini bukan sekadar atribut, melainkan simbol kepercayaan masyarakat hulu bahwa sang Bupati adalah sosok pelindung yang berani menerjang tantangan demi kesejahteraan rakyatnya.
Mendengar di Beranda Belakang Negara
Di bawah atap bangunan sederhana, keriuhan sambutan berubah menjadi diskusi serius. Bupati duduk bersila, mendengar langsung keluhan warga mengenai mahalnya harga barang akibat keterisolasian hingga minimnya fasilitas kesehatan dan pendidikan.
Tak sekadar mendengar, Bupati menyalurkan bantuan langsung dan memberikan janji konkret untuk penguatan infrastruktur pelayanan publik di tahun anggaran 2026. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah berkomitmen agar pembangunan tidak hanya berpusat di kota, tetapi juga menyentuh wilayah paling ujung di hulu sungai.
Pulang Membawa Catatan
Saat matahari mulai condong ke barat, rombongan bersiap kembali menerjang jeram untuk perjalanan pulang. Bupati meninggalkan Lumbis Hulu tidak hanya dengan gelar adat baru, tetapi juga dengan catatan panjang mengenai realita hidup di perbatasan.
Petualangan ini membuktikan bahwa untuk membangun beranda depan NKRI, dibutuhkan lebih dari sekadar tanda tangan di atas kertas kebijakan. Dibutuhkan ketulusan untuk hadir langsung, keberanian untuk menaklukkan jeram, dan kerendahan hati untuk mendengar aspirasi di tempat yang paling sulit dijangkau sekalipun. (TN/Prokompim Nnkn)
