Profil Zainal Abidinsyah: Sosok Pemimpin Lapangan yang Merajut Birokrasi dan Adat di Perbatasan Indonesia-Malaysia
![]()


TERASNKRI.COM | NUNUKAN, KALTARA – Di usia 50 tahun, Zainal Abidinsyah, S.E., bukan sekadar nama dalam daftar administrasi kepegawaian. Sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Camat Sebatik Utara sekaligus Kepala UPTD Lalu Lintas dan Angkutan (LLA) Sebatik, putra asli Kalimantan Utara berdarah Banjar ini merepresentasikan sosok ASN yang matang karena proses dan membumi karena dedikasi.
Lahir di Bunyu pada 7 Juni 1976, perjalanan karier Zainal adalah potret birokrat yang kenyang akan pengalaman lapangan. Sebanyak delapan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) telah ia selami, mulai dari urusan perlindungan masyarakat, kesatuan bangsa, hingga pengelolaan perbatasan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Nunukan.
“Amanah itu bukan untuk dibanggakan, tapi untuk dikerjakan sebaik-baiknya. Kalau masyarakat masih butuh kehadiran pemerintah, maka kita harus hadir,” tutur Zainal dengan prinsip kesederhanaannya.

Kepemimpinan Tanpa Jarak

Zainal dikenal sebagai pemimpin yang alergi terhadap sekat birokrasi. Baginya, meja kantor bukanlah tempat utama untuk menyelesaikan masalah. Ia lebih sering terlihat berdialog dengan pemerintah desa, unsur TNI/Polri, hingga tokoh pemuda dan adat. Pendekatan persuasif dan musyawarah menjadi senjata utamanya dalam menjaga kondusivitas di wilayah perbatasan yang dinamis.
Sebagai Kepala UPTD LLA, ia pun tak segan turun langsung memastikan keselamatan transportasi masyarakat pesisir. “Masyarakat ingin didengar dan ditemani mencari jalan keluar,” ujarnya, menggambarkan gaya kepemimpinan yang inklusif.
Menjaga Harmoni Lewat Adat
Di luar seragam dinasnya, Zainal memegang tanggung jawab besar sebagai penjaga marwah budaya. Ia dipercaya menjabat sebagai Ketua Dewan Adat Banjar (DAB) Nunukan serta Ketua Pasukan Merah Serdaduuq Adat Regant Tatau (PM-SART) Kabupaten Nunukan.
Di bawah komandonya, organisasi adat PM-SART diposisikan sebagai “penyejuk” sosial. Ia memastikan nilai kearifan lokal berjalan selaras dengan hukum negara.
“Organisasi adat harus menjadi penyejuk, bukan pemicu. Tugas kita merawat persatuan,” tegasnya.
Mitra Bagi Masyarakat
Bagi Zainal, masyarakat adalah guru terbaik. Ia menempatkan warga bukan sebagai objek pelayanan, melainkan mitra untuk merumuskan kebijakan. Perpaduan antara pengalaman birokrasi lintas sektoral dan kedekatan emosional dengan akar budaya menjadikannya figur ASN yang komunikatif dan jujur.
Pengabdian Zainal Abidinsyah di Sebatik Utara adalah bukti bahwa integritas seorang pemimpin tidak hanya diukur dari jabatan, tetapi dari seberapa besar manfaat kehadirannya dirasakan oleh rakyat di beranda terdepan Indonesia. (TN/Shar)
