Harmoni Adat dan Syariat: Bupati Ikram Umasugi Hadiri Pemasangan Tiang Alif Masjid Baiturrahman Desa Seith
![]()

TERASNKRI.COM | BURU, MALUKU – Suasana khidmat bercampur haru menyelimuti Desa Seith, Kecamatan Teluk Kaiely, pada Sabtu (6/6/2026). Bupati Buru, Ikram Umasugi, S.E., menghadiri langsung prosesi sakral pemasangan tiang Alif dan kubah Masjid Baiturrahman. Momentum ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan simbol kuat menyatunya tatanan adat dan syariat Islam di Bumi Bupolo.
Menggunakan speedboat Pemerintah Daerah, Bupati beserta rombongan bertolak dari pelabuhan menuju Desa Seith. Kehadiran orang nomor satu di Kabupaten Buru ini didampingi oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Buru Azis Tomia, Asisten I Setda Buru, serta anggota DPRD Kabupaten Buru, Djalil Mukadar.
Setibanya di lokasi, rombongan bupati disambut dengan sukacita dan antusiasme luar biasa dari masyarakat setempat. Tarian Sawat dan lantunan musik Hadrat yang menggema mengiringi langkah kaki rombongan, menciptakan atmosfer kebersamaan yang kental antara pemimpin dan rakyatnya.
Prosesi pemasangan tiang Alif pun berlangsung sangat khidmat, menyedot perhatian sekaligus air mata syukur dari warga yang telah lama mendambakan berdirinya rumah ibadah yang megah ini.
Dalam sambutannya yang menyentuh hati, Bupati Ikram Umasugi menekankan bahwa masjid adalah representasi utama dari syiar Islam. Beliau mengajak seluruh masyarakat untuk merenungkan esensi spiritual dari membangun rumah Allah.

“Masjid adalah simbol keislaman kita. Barangsiapa yang membangun masjid di dunia, Allah SWT pasti akan membangunkan sebuah istana untuknya di surga. Mari kita haturkan pula pahala Suratul Fatihah kepada mereka yang telah ikhlas mengulurkan tangan membantu pembangunan Masjid Baiturrahman ini,” ujar Bupati penuh kharisma.
Namun, Bupati juga memberikan catatan penting dan pengingat yang mendalam bagi seluruh jamaah. Beliau menegaskan bahwa kemegahan fisik sebuah masjid tidak akan berarti tanpa adanya kemakmuran di dalamnya.
Pentingnya Shalat Berjamaah Bupati mengingatkan agar masyarakat tidak melupakan shalat lima waktu.
“Akan terasa percuma jika kita memiliki masjid yang bagus dan megah, namun di dalamnya kosong dari aktivitas ibadah,” tegasnya.
Simbol Nilai Luhur Momentum pemasangan tiang Alif ini harus dijadikan sebagai tonggak sejarah untuk terus menanamkan keselarasan antara adat istiadat setempat dengan hukum Islam.
Di akhir arahannya, Ikram Umasugi mengajak seluruh lapisan masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, serta elemen pemerintah untuk melupakan perbedaan dan mulai merapatkan barisan.
“Mari kita saling bergandengan tangan, bergotong-royong membangun Kabupaten Buru yang Berseri Sejahtera, Religius, dan Berkelanjutan. Pemda tidak bisa berjalan sendiri, kita butuh kebersamaan ini,” pungkasnya.
Acara kemudian dilanjutkan dengan doa bersama demi keselamatan, keberkahan, dan kemajuan masyarakat Desa Seith serta Kabupaten Buru secara keseluruhan. (Grace)
