MalukuNusantara

Ketua PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA Angkat bicara Terkait Koperasi dan Tata Kelola Pertambangan Gunung Botak

Loading

Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kabupaten Buru M Idrus Barges SE

TERASNKRI.COM | NAMLEA, MALUKU – Menyikapi isu Gunung Botak dan pengelolaannya melalui Koperasi beberapa tokoh pemuda dan tokoh masyarakat angkat bicara.

Mereka memberikan apresiasi penuh terhadap keputusan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku untuk menerbitkan IPR. Hal ini sejalan dengan keinginan masyarakat banyak seantero kabupaten Buru yang menaruh harapan dan menggantungkan hidup di wilayah pertambangan ini.

Baca Juga  Tiga Tahun Konsisten, BPPKB Banten PAC Sukatani Santuni 150 Anak Yatim dan Dhuafa

Salah satu yang menyikapi persoalan tersebut adalah Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kabupaten Buru M Idrus Barges SE yang juga Generasi yang tumbuh besar di bumi Bupolo ini .

“Sebagai masyarakat akademis, saya menilai penting adanya koperasi karna secara legitimasi administrasi masyarakat memiliki payung hukum untuk melaksanakan aktivitas penambangan,” ujarnya.

Baca Juga  Iduladha 1447 H, Kodim 1506/Namlea Sembelih dan Distribusikan 2 Ekor Sapi untuk Warga

Barges berharap koperasi secepatnya bisa beraktifitas sehingga masyarakat dan para pengusaha tidak cemas dan merasa lega

Dirinya memberikan apresiasi besar kepada pihak kepolisian Polres Buru dalam penyelesaian setiap persoalan atau masalah yang terjadi di kabupaten Buru.

“Saya secara kelembagaan mendukung dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Polres Pulau Buru dalam upayanya menyelesaikan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan ahli waris,” sebut Barges.

Baca Juga  Kapolres Buru Dampingi Peninjauan Gunung Botak, Pastikan Keamanan dan Stabilitas Wilayah

“Ini merupakan langkah tepat dan strategis dalam percepatan pengelolaan dan peningkatan ekonomi masyarakat,” tutup Barges

Dia juga meminta agar Polres Buru segera melakukan langkah- langkah terkait persiapan penertiban PETI sehingga masyarakat yang bekerja merasa mempunyai legitimasi.(GP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *