BisnisEkonomiNASIONAL

Aset Keuangan Syariah Capai Rp3.264 Triliun, BI Dorong Penguatan Pasar

Loading

TERASNKRI.COM | JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memperkuat kolaborasi global untuk meningkatkan ketahanan keuangan syariah sekaligus memperbesar kontribusinya terhadap perekonomian riil. Upaya ini dilakukan melalui pendalaman pasar keuangan syariah domestik, perluasan akses pembiayaan produktif, dan penguatan kerja sama lintas negara.

Komitmen tersebut disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Solikin M. Juhro, saat membuka seminar internasional kolaborasi Bank Indonesia, Islamic Financial Services Board (IFSB), dan International Islamic Liquidity Management Corporation (IILM) di Jakarta, Senin (19/10/2026).

Seminar bertema “Di Balik Pertumbuhan: Risiko Terkini, Stabilitas Keuangan, dan Masa Depan Keuangan Syariah” itu dihadiri sejumlah tokoh internasional, di antaranya mantan Gubernur Bank Negara Malaysia Tan Sri Nor Shamsiah Mohd Yunus, Sekretaris Jenderal IFSB Dr. Ghiath Shabsigh, CEO IILM Safri Shahul Hamid, Asisten Gubernur Senior Bangko Sentral ng Pilipinas Arifa Alauya Ala, serta Asisten Direktur Departemen Pasar Moneter dan Modal Dana Moneter Internasional (IMF) Ranjit Ajit Singh.

Baca Juga  Bupati Irwan Sabri Hadiri Tasyakuran Gerai Koperasi Desa Merah Putih Sekaduyantaka

Solikin menyebutkan, perkembangan keuangan syariah Indonesia menunjukkan potensi besar. Hingga Juni 2026, total aset keuangan syariah mencapai Rp3.264 triliun atau tumbuh hampir 10 persen secara tahunan. Namun, pangsa pasar perbankan syariah masih sekitar 7 persen, sehingga peluang untuk memperbesar perannya dalam mendukung kegiatan ekonomi produktif masih terbuka.

“Kita memiliki peluang untuk membangun regulasi yang kuat, tata kelola syariah, dan infrastruktur pasar sejak awal. Di sisi lain, negara dengan pasar syariah yang telah maju juga dapat berbagi pengalaman sekaligus terbuka terhadap gagasan baru,” ujar Solikin.

Ia menekankan bahwa ketersediaan likuiditas merupakan faktor penting dalam menjaga stabilitas keuangan syariah, terutama ketika pasar menghadapi tekanan. Karena itu, diperlukan pendalaman pasar sekunder sukuk, mekanisme pembentukan harga yang kredibel, pengaturan repo syariah, serta fasilitas likuiditas darurat yang sesuai dengan prinsip syariah.

Dalam mendukung upaya tersebut, BI terus memperkuat pasar keuangan syariah domestik melalui instrumen SukBI dan SUVBI serta pengembangan pasar uang antarbank syariah. Sebagai anggota pendiri IILM, Indonesia juga mendukung perluasan basis investor untuk memperdalam likuiditas keuangan syariah lintas negara.

Baca Juga  BI Pertahankan Suku Bunga 5,75 Persen, Fokus Jaga Rupiah dan Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Solikin menegaskan bahwa ketahanan keuangan tidak cukup dibangun setelah terjadi guncangan, tetapi perlu dipersiapkan sejak dini melalui penguatan fondasi pasar dan pengelolaan risiko.

Selain likuiditas, inovasi yang bertanggung jawab juga menjadi perhatian. Solikin menilai inovasi digital, termasuk sukuk yang ditokenisasi (tokenised sukuk), berpotensi meningkatkan efisiensi dan memperluas akses keuangan syariah. Namun, penerapannya perlu didukung tata kelola yang kuat, kepastian hukum, serta manajemen risiko yang efektif.

“Keuangan syariah dapat terus tumbuh, tetapi besarnya aset tidak menjamin ketahanannya menghadapi guncangan. Risiko keuangan, kebutuhan likuiditas, dan perkembangan inovasi digital melintasi batas negara sehingga tidak dapat diatasi oleh satu institusi atau negara saja. Karena itu, kolaborasi global perlu terus diperkuat untuk membangun ketahanan keuangan syariah yang berkelanjutan,” ujar Solikin.

Baca Juga  BI Dorong Kerja Sama Internasional, Perkuat Ketahanan Ekonomi Global

Sementara itu, Sekretaris Jenderal IFSB Dr. Ghiath Shabsigh mengatakan industri keuangan syariah berada pada tahap penting yang menuntut kemampuan mengelola risiko sekaligus memanfaatkan peluang dari perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan nasabah.

Menurutnya, inovasi seperti kecerdasan artifisial (AI), pemanfaatan data berskala besar, dan instrumen keuangan hibrida berpotensi memperluas jangkauan layanan serta meningkatkan dampak ekonomi dan sosial.

Ia juga menilai Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk mengembangkan industri keuangan syariah. Potensi tersebut didukung peran bank sentral dalam mengembangkan industri, menyediakan fasilitas likuiditas, dan membangun infrastruktur pasar keuangan syariah.

Ke depan, BI akan terus memperkuat sinergi dengan mitra global untuk mengantisipasi risiko keuangan yang semakin kompleks dan saling terhubung. Langkah ini diharapkan dapat menjaga ketahanan keuangan syariah sekaligus memperluas pembiayaan bagi UMKM, memperkuat rantai nilai halal, mendorong penciptaan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (TN/DK BI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

      

Loading