EkonomiKalimantan Utara

Membaca Arah Inflasi Kaltara Mei 2026: Terkerek Emas dan Tiket Pesawat, Dijinakkan Komoditas Pangan Lokal

Loading

Infografik : BPS Kaltara

TERASNKRI.COM | TANJUNG SELOR, KALTARA — Di balik pertumbuhan ekonomi Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), bayang-bayang tekanan daya beli masyarakat mulai terlihat nyata pada pertengahan kuartal kedua tahun 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Bumi Benuanta melesat ke angka 110,00 pada Mei 2026, memicu angka inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) sebesar 2,90 persen.

Angka ini merekam lompatan harga yang konsisten jika dibandingkan dengan IHK Mei 2025 yang bertengger di posisi 106,90. Sementara itu, tekanan inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) merangkak di angka 0,27 persen, membawa akumulasi inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) berjalan sepanjang Januari–Mei 2026 ke level 1,44 persen.

Di balik angka-angka makro ini, terdapat anomali menarik mengenai sektor mana yang paling membebani dompet warga perbatasan, dan komoditas apa yang justru menyelamatkan Kaltara dari jurang inflasi yang lebih dalam.

Gaya Hidup dan Kesehatan Jadi Beban Terberat

Baca Juga  Kaltara Terbaik Turunkan Pengangguran di Kalimantan, Raih Insentif Rp3 Miliar

Jika biasanya inflasi di daerah kepulauan dan perbatasan didominasi oleh gejolak harga pangan (volatile foods), data Mei 2026 menunjukkan pergeseran struktural. Beban inflasi tahunan terbesar justru datang dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang meroket hingga 9,53 persen, memberikan andil terbesar terhadap inflasi y-on-y yaitu sebesar 0,72 persen.

Disusul oleh kelompok kesehatan yang naik tajam 7,84 persen dengan andil 0,19 persen, serta sektor transportasi yang melesat 4,51 persen dengan andil sumbangan 0,53 persen.

Secara mikro, komoditas non-pangan seperti emas perhiasan, tarif angkutan udara, tarif air minum PAM, tarif rumah sakit, hingga sepeda motor menjadi motor penggerak utama yang mengerek inflasi y-on-y. Mahalnya harga emas global dan tingginya biaya logistik udara di wilayah perbatasan disinyalir menjadi pemicu utama mengapa sektor penunjang gaya hidup dan mobilitas ini begitu tinggi di Kaltara.

Sektor Pangan: Pedang Bermata Dua bagi Inflasi Bulanan

Baca Juga  Kaltara Genjot PAD, Luncurkan E-SAMSATKU dan SIMPADKU untuk Layanan Pajak Digital

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau pada bulan ini bertindak sebagai “jangkar” sekaligus “pemicu” dalam dua garis waktu berbeda. Secara tahunan (y-on-y), kelompok ini tumbuh moderat sebesar 1,84 persen dengan andil 0,60 persen. Pasokan pangan lokal yang melimpah terbukti mampu meredam gejolak harga tahunan.

Komoditas sayuran dan perikanan seperti ikan layang, kangkung, bawang putih, cabai rawit, bayam, cabai merah, sawi hijau, dan udang basah menjadi penyelamat dengan memberikan andil deflasi y-on-y terbesar. Hal ini mengindikasikan bahwa ketahanan pangan hortikultura dan sektor perikanan di tiga kabupaten/kota sampel pemantauan BPS berada dalam kondisi prima dalam setahun terakhir.

Namun, jika melihat dinamika bulanan (m-to-m), sektor pangan mulai menunjukkan alarm peringatan. Beras, sawi hijau, minyak goreng, mi, dan sayur kacang panjang justru merangkak naik dan masuk dalam jajaran komoditas utama pemicu inflasi m-to-m sebesar 0,27 persen, mendampingi tarif angkutan udara yang belum juga melandai. Beruntung, kenaikan bulanan ini berhasil diredam oleh jatuhnya harga telur ayam ras, daging ayam ras, cabai rawit, dan bawang merah di pasar lokal (deflasi m-to-m).

Baca Juga  Wamenhaj Dahnil Anzar Lakukan Sidak dan Tinjau Persiapan Pemberangkatan Calhaj Kaltara di Tarakan

Sektor Komunikasi yang Stabil di Tengah Tren Kenaikan

Di tengah tren kenaikan harga di hampir seluruh sektor, hanya kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang mencatatkan penurunan indeks tahunan secara konsisten, yakni minus 0,01 persen. Stabilitas di sektor ini menunjukkan bahwa tarif telekomunikasi dan jasa keuangan di Kaltara cenderung stagnan dan tidak memberikan guncangan berarti terhadap pergerakan IHK secara makro.

Dengan angka inflasi tahunan yang mendekati angka psikologis 3 persen, tantangan besar kini berada di pundak Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kaltara. Menjaga stabilitas tarif transportasi udara interkoneksi perbatasan serta memastikan rantai pasok komoditas pangan pokok seperti beras dan minyak goreng tetap aman pada bulan-bulan berikutnya akan menjadi kunci agar daya beli masyarakat perbatasan tidak kian tergerus. (TN/Diolah dari berbagai Sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *