Dari Lombok hingga Jawa, Anak Yatim Menimba Ilmu Al-Qur’an di Bulungan
![]()

Meski baru beroperasi sekitar tiga bulan, pesantren tersebut telah menerima santri dari sejumlah wilayah, termasuk luar Kalimantan Utara (Kaltara), seperti Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Pulau Jawa.
Pimpinan Ponpes, Ustaz Marzuki, mengatakan pesantren tersebut didirikan untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak, khususnya yatim dan keluarga kurang mampu, agar tetap memperoleh pendidikan agama dan kesempatan menghafal Al-Qur’an.

“Perbedaan latar belakang dan daerah asal tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk belajar dan menjalani kehidupan bersama di lingkungan pesantren,” ungkap Marzuki.
Menurutnya, pengelola bahkan tidak jarang membantu biaya perjalanan calon santri dari luar daerah, termasuk tiket pesawat, bagi mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi.
“Keterbatasan biaya tidak seharusnya menjadi penghalang bagi anak-anak yang memiliki keinginan kuat untuk belajar dan menghafal Al-Qur’an,” ujarnya.
Marzuki menjelaskan, lokasi pesantren sengaja dipilih di kawasan yang jauh dari keramaian perkotaan agar para santri dapat belajar dengan lebih tenang dan berkonsentrasi menghafal Al-Qur’an.
“Kami pernah ditawarkan untuk membuka pesantren ini di kawasan kota. Namun, kita tolak,” katanya.
Ia menambahkan, aktivitas santri dimulai sejak pukul 03.30 WITA dengan salat tahajud berjamaah, dilanjutkan istigasah, salat Subuh, membaca Surah Yasin, dan menyetorkan hafalan Al-Qur’an.
Meski tergolong baru, pesantren tersebut merupakan cabang dari pondok pesantren pusat yang berada di Bentiang, Salim Batu.
Marzuki juga menyampaikan terima kasih kepada anggota DPR RI, Rahmawati Zainal, atas perhatian dan bantuan yang diberikan kepada para santri.
Sementara itu, anggota DPR RI Rahmawati Zainal mengatakan perkembangan pesantren tersebut tidak terlepas dari peran para alumni. Sebanyak 53 lulusan pesantren yang telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an turut memperkenalkan keberadaan pondok kepada keluarga dan masyarakat di daerah asal masing-masing.
“Cerita dan pengalaman para alumni menjadi salah satu jalan bagi masyarakat untuk mengenal pesantren ini. Dari sana, dukungan perlahan tumbuh bukan hanya dalam bentuk perhatian, tetapi juga keterlibatan langsung,” ujar Rahmawati.
Dukungan juga datang dari masyarakat sekitar. Warga secara sukarela bergotong royong membantu pembangunan sejumlah fasilitas pendukung, termasuk pengerjaan akses jalan menuju kawasan pesantren.
Menurut Rahmawati, semangat kebersamaan tersebut menjadi modal penting bagi pengelola dalam mengembangkan pesantren yang berdiri di atas lahan sekitar satu hektare.
Ke depan, pengelola telah menyiapkan rencana pembangunan rumah ustaz dan masjid di bagian depan kawasan pesantren. Meski rencana tersebut belum diajukan kepada pemerintah daerah, pengelola berharap adanya perhatian dan dukungan dari berbagai pihak, termasuk tokoh masyarakat dan pejabat yang telah meninjau lokasi.
Di tengah keterbatasan sarana dan usia operasional yang masih relatif baru, pesantren di SP 4 Tanjung Buka tersebut terus berupaya memberikan pendidikan agama bagi anak-anak yatim dan keluarga kurang mampu. Keberadaannya diharapkan menjadi ruang bagi para santri untuk memperdalam ilmu agama, menghafal Al-Qur’an, serta mempersiapkan masa depan. (TN/MCZ*)
