MalukuNamleaNusantara

Pj Bupati Buru Buka Rakor Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) dan Sosialisasi GENTING

Loading

TERASNKRI.COM | NAMLEA, MALUKU – Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang cukup serius di Indonesia, Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya pencegahan dan penanganan stunting secara serius.

Stunting tidak hanya mengenai pertumbuhan anak yang terhambat, namun juga berkaitan dengan perkembangan otak yang kurang maksimal. Hal ini menyebabkan kemampuan mental dan belajar anak akan berada dibawah rata-rata dan bisa berakibat pada prestasi Akademik yang buruk.

Pernyataan ini disampaikan Pj Bupati Buru Syarif Hidayat saat membuka Rapat Kordinasi Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) dan Sosialisasi Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) di Kabupaten Buru, Rabu (30/05/2025).

“Menurut WHO, batasan Prevalensi Stunting suatu wilayah sebesar 20%. Berdasarkan Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI), Ditahun 2023 Prevalensi angka stunting di Kabupaten Buru 20,3% hal ini merupakan pencapain baik berdasarkan hasil Kerjasama kita secara bersama-sama. Sehingga pada tahun 2025 ada penurunan yang signifikan sehingga di tahun 2026 Prevelensi Stunting di Kabupaten Buru menjadi 14 % (empat belas persen),” jelasnya.

Baca Juga  Dituduh Sebagai Bandar B3, Ini Kata Ibnu

Dikatakan Syarif, tingkat prevalensi stunting dan jumlah Keluarga Resiko Stunting (KRS) yang masih tinggi perlu segera diatasi bersama. Baik Pemerintah Kabupaten, Kecamatan, desa, Individu, komunitas maupun swasta harus bersinergi dan bersatu dalam upaya penanggulangan stunting.

“Dalam rangka upaya penanggulangan stunting tersebut maka pada hari ini kita mengadakan kegiatan Rapat Kordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) dan Sosialisasi Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) di Kabupaten Buru,” ungkapnya.

Dia menegaskan, Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) bertujuan untuk Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pencegahan stunting, Membangun generasi sehat dan produktif, serta Mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam upaya penurunan angka stunting.
 
Kunci pencegahan dan penanganan kasus stunting harus terus diupayakan melalui intervensi gizi spesifik maupun intervensi sensitive. Intervensi tidak hanya dilakukan oleh sector kesehatan saja tetapi juga dilaksanakan oleh sector lain. Karena tingkat keberhasilan program ini sangat dipengaruhi oleh sector non kesehatan dengan proporsi dukungan mencapai 70% (tujuh puluh persen).

Baca Juga  Langkah Pemerintah Tertibkan PETI-GB Diapresiasi Koperasi TRI-M, Keamanan Didukung Kodim 1506/Namlea

Untuk itu ia berharap penanganan masalah stunting pada anak dapat dilakukan secara terpadu, melibatkan semua pihak yang terlibat, termasuk pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat umum. Dengan upaya yang berkelanjutan, diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan berkualitas bagi anak-anak di Kabupaten Buru.

Baca Juga  Pastikan Layanan Prima di Tahun Baru, Kalapas Labuhan Ruku Pantau Langsung Kunjungan Warga Binaan

“Semoga hasil rapat ini tidak hanya berakhir pada hari ini, tetapi menjadi sebuah komitmen bersama untuk menurunkan prevalensi stunting di Kabupaten Buru,” harapnya.

Dirinya juga ingin menyampaikan apresiasi yang setinggi- tingginya kepada seluruh pihak yang telah bekerja keras dalam mendukung program-program pembangunan keluarga, kependudukan, dan keluarga berencana (Bangga Kencana) dan upaya pencegahan dan penurunan stunting di Kabupaten Buru.

“Terima kasih kepada para TPPS Kabupaten, para Camat, mitra kerja, TP PKK, para kader, para Tim Pendamping Keluarga serta semua pihak yang telah berkontribusi nyata dalam upaya pencegahan di Kabupaten Buru,” ucap Syarif.

“Mari kita tetap membangun komitmen dan penampilkan kerja nyata kita untuk mengatasi masalah stunting di Kabupaten Buru,” ajak Pj Bupati. (Grace)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *