BudayaNusantara

Menjaga Napas “Silaturahmi” di Pusaka Karawang: Jejak Filosofis Paguron Silat GODOT

Loading

TERASNKRI.COM | KARAWANG, JABAR – Di tengah gempuran tren bela diri modern, sebuah sanggar tua di Dusun Kalenraman, Desa Gempol, Kecamatan Banyusari, tetap teguh menjaga marwah warisan leluhur. Paguron Silat GODOT, yang berdiri sejak tahun 1943, bukan sekadar tempat menempa fisik, melainkan kawah candradimuka untuk memperkuat tauhid dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Akar Sejarah: Tiga Generasi Menjaga Tradisi

Perjalanan Paguron GODOT dimulai dari tangan dingin sang sesepuh, Asnim bin Istar. Di masa perjuangan kemerdekaan, silat menjadi instrumen penting bagi pemuda untuk membela tanah air. Estafet kepemimpinan ini kemudian turun secara konsisten kepada putranya, Caskata Bin Asnim, dan kini mandat tersebut dipegang oleh sang cucu, Mbah Dedi, yang akrab disapa Mbah Guntur Sakeuti.

Baca Juga  Sambut Ramadhan, Rutan Pangkalan Brandan Gelar Aksi Bersih Musholla dan Perbaikan Fasilitas

Di bawah asuhan Mbah Guntur, Paguron GODOT meluas perannya. Tidak hanya mengajarkan ketangkasan jurus, beliau juga dikenal melayani pengobatan hikmah batin, sebuah perpaduan antara kearifan lokal dan sisi spiritualitas yang melekat erat pada budaya persilatan di tanah Jawa Barat.

Filosofi “Silat” adalah “Silaturahmi”

Bagi Mbah Guntur, nama atau ciri khas setiap paguron di Indonesia boleh berbeda, namun fundamennya harus satu: Iman dan Takwa. Ia menekankan bahwa seni bela diri adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, bukan alat untuk pamer kekuatan.

Baca Juga  Polres Batu Bara Laksanakan Patroli Asmara Subuh Roda-4, Antisipasi Tindak Pidana 3C dan Kejahatan Jalanan

“Silat itu artinya silaturahmi. Ajaran utamanya adalah tauhid. Kita tidak boleh sombong, angkuh, apalagi takabur, karena sejatinya manusia tidak punya daya dan upaya. Hanya Allah yang Maha Kuat,” tegas Mbah Guntur dalam sebuah kesempatan silaturahmi.

Silat sebagai Benteng Negara

Di era digital, Mbah Guntur menaruh harapan besar pada generasi muda. Ia melihat silat sebagai solusi ganda: kesehatan fisik bagi individu dan ketahanan mental bagi bangsa.

“Anak muda Indonesia harus punya silat. Kalau badan sehat dan mentalnya terjaga dari sifat takabur, maka negara pun akan kuat,” ujarnya. Pesan ini menjadi relevan di tengah isu degradasi moral remaja saat ini. Bela diri diarahkan untuk menjaga diri sendiri (self-defense) dan menjaga kedaulatan NKRI.

Baca Juga  Tepat Sasaran, 115 Warga Desa Sampalan Terima Bantuan BPNT dan PKH

Tantangan Globalisasi

Eksistensi Paguron GODOT menjadi pengingat bahwa di setiap pelosok nusantara, “silaturahmi tanpa batas” melalui jalur budaya masih menjadi perekat sosial yang paling ampuh. Tantangan kedepan bagi paguron-paguron tradisional adalah bagaimana tetap menarik minat milenial tanpa harus mengikis nilai spiritualitas dan ketawaduan yang menjadi roh dari pencak silat itu sendiri.

Dengan prinsip kerendahan hati, Paguron Silat GODOT membuktikan bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada kepalan tangan, melainkan pada kebersihan hati dan eratnya tali persaudaraan. (TN/Nasa B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *