Cahaya Damar di Bumi Bupolo: Kala Tradisi 7 Liqur Satukan Pemimpin dan Rakyat
![]()


TERASNKRI.COM | NAMLEA – Saat matahari perlahan tenggelam di ufuk barat Desa Namlea, Senin (16/3/2026), Lapangan Pattimura tidak hanya diselimuti warna jingga, tetapi juga gema dentuman meriam bambu yang memecah kesunyian sore. Di sana, Pemerintah Daerah Kabupaten Buru menggelar Gebyar 7 Liqur Bupolo Berseri 1447 H, sebuah perayaan yang menghidupkan kembali denyut tradisi leluhur di tanah Maluku.
Suasana terasa magis ketika Kapolres Buru, AKBP Sulastri Sukidjang, S.H., S.I.K., M.M., berdiri berdampingan dengan Bupati Buru Ikram Umasugi, S.E., dan Dandim 1506/Namlea Letkol Inf Heribertus Purwanto. Bukan sekadar seremoni formal, kehadiran para pucuk pimpinan ini menjadi simbol sinergi yang kokoh di bawah langit Ramadan.
Puncak acara ditandai dengan prosesi yang menggetarkan: peluncuran launching yang diawali dengan pembakaran meriam bambu. Asap yang membumbung tinggi disusul dengan tradisi bakar damar (ela-ela)—sebuah nyala api kecil yang bermakna besar dalam menjemput malam-malam penuh kemuliaan di penghujung Ramadan.

“Gebyar 7 Liqur ini adalah janji kita untuk menjaga warisan moyang agar tidak hilang ditelan zaman,” ujar Bupati Ikram Umasugi dengan nada bangga. Baginya, setiap damar yang menyala adalah representasi dari visi Buru Berseri: Berbudaya, Sejahtera, dan Religius.


Tak hanya soal cahaya dan tradisi, acara ini juga menyentuh sisi kemanusiaan. Di tengah keriuhan seni religi, pemerintah menyelipkan kepedulian dengan menyerahkan bantuan kepada 36 pelaku UMKM setempat. Ini adalah bukti bahwa perayaan budaya bisa berjalan selaras dengan penguatan ekonomi rakyat.
Seiring berkumandangnya azan Magrib, nuansa ukhuwah semakin kental. Para pejabat Forkopimda melebur bersama masyarakat dalam buka puasa bersama dan salat berjamaah. Tidak ada sekat; yang ada hanyalah doa dan tawa yang menyatu dalam kehangatan malam Ramadan yang kondusif.
Melalui Gebyar 7 Liqur, Bumi Bupolo kembali membuktikan bahwa kemajuan zaman tidak harus mengubur identitas. Tradisi tetap terjaga, dan persaudaraan tetap menjadi cahaya yang paling terang di hati masyarakat Buru. (TN/GP)
