Menyigi Hangatnya Persaudaraan di Secangkir Kopi Warkop Cabulo
![]()


TERASNKRI.COM | NUNUKAN, KALTARA – Matahari perlahan turun di ufuk barat Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, Minggu (15/3/2026), namun keriuhan di Warkop Cabulo justru baru dimulai. Bukan suara mesin penggiling kopi yang mendominasi senja itu, melainkan gelak tawa dan obrolan hangat dari para pelanggan setia yang berkumpul untuk satu tujuan: berbuka puasa bersama.
Warkop Cabulo bukan sekadar tempat singgah untuk menyesap kafein. Bagi komunitas “Gardu Cabulo”, tempat ini adalah rumah kedua. Di bulan Ramadan ini, aroma kopi yang khas bersanding manis dengan sajian takjil sederhana, menciptakan atmosfer kekeluargaan yang sulit ditemukan di tempat lain.
Sejak pukul 17.30 WITA, kursi-kursi yang disediakan sudah diduduki para penikmat Kopi Cabulo berbaur dalam satu meja panjang yang penuh dengan semangat persaudaraan.

“Kegiatan ini sudah jadi tradisi kami,” ujar Roy Albar, salah satu sosok yang dituakan di Gardu Cabulo. “Bagi kami, buka puasa di sini bukan soal menu apa yang dimakan, tapi soal siapa yang duduk di sebelah kita. Ini cara kami menjaga silaturahmi agar tetap ‘kental’ seperti kopi yang kami minum tiap hari.”

Di sudut lain, sosok perempuan yang akrab disapa Tante Sedda, pemilik warkop, tampak sibuk memastikan semua tamu mendapatkan hidangan. Senyum tak lepas dari wajahnya saat melihat pelanggan setianya bercengkerama dengan akrab.

“Saya bersyukur sekali. Warkop ini hidup karena mereka. Ramadan adalah momen terbaik untuk menunjukkan bahwa kami bukan sekadar penjual dan pembeli, tapi keluarga besar,” tutur Tante Sedda dengan mata berbinar penuh syukur.
Saat azan Magrib berkumandang, suasana seketika khidmat. Tegukan air putih dan manisnya takjil mengawali buka puasa yang sederhana namun penuh makna. Tak lama berselang, kepulan asap kopi kembali menghiasi meja-meja. Obrolan yang sempat terjeda pun berlanjut hingga malam menyapa.
Malam itu, Warkop Cabulo kembali membuktikan bahwa ruang publik yang sederhana bisa menjadi perekat sosial yang luar biasa. Di tengah kepulan aroma kopi, silaturahmi tetap terjaga, sehangat cangkir-cangkir yang mereka genggam di bawah langit Ramadan. (TN/Shar)
