Base Camp Milik Penambang Ludes Dilahap si Jago Merah Setelah Aparat Gabungan Tiba Di Areal Gunung Botak
![]()

TERASNKRI.COM | BURU, MALUKU – Sejumlah tenda (base-camp) milik penambang ludes dilalap api setelah ratusan aparat gabungan ditempatkan di kawasan tambang emas ilegal Gunung Botak, Selasa siang, 9 Desember 2025. Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan publik karena api muncul beberapa jam setelah aparat berada di lokasi.
Berdasarkan pantauan Tim Media, sebanyak 216 personel gabungan dari TNI, Polri, dan Satpol PP telah ditempatkan di lima pos sejak pukul 14.00 WIT. Namun sekitar pukul 18.59 WIT, kobaran api terlihat pada beberapa titik di areal ilegal tersebut dan menghanguskan banyak tenda para penambang.

Insiden pembakaran ini menuai kritik dan dugaan penyalahgunaan wewenang. Menurut pemberitaan dan pengamatan di lapangan, tindakan membakar atau merusak barang milik penambang saat penertiban—yang semestinya dilakukan secara humanis—dapat dianggap sebagai bentuk pembohongan terhadap publik. Pernyataan tegas itu muncul mengingat sempat ada arahan dari pemerintah daerah agar penertiban berjalan secara terukur dan tidak merusak barang milik masyarakat.
Sebelumnya, Kepala Dinas ESDM Provinsi Maluku, Abdul Haris, telah meminta agar para penambang melepaskan tenda-tenda mereka secara sukarela. Dalam arahannya, Haris mengingatkan bahwa jika tenda tidak dilepas sekarang, maka pada hari Selasa, 9 Desember, bila masih ditemukan tenda penambang, “Tenda tersebut akan dilepas baik baik oleh aparat,” ucap Haris kala itu.

Ia juga menegaskan: “Olehnya itu,kami berharap agar bapak/ ibu segera melepas tenda miliknya dengan kesadaran sendiri karena lokasi ini harus bersih agar tidak menghalangi saat koperasi melakukan pematokan di tanggal 9 Desember mendatang ” ucapnya
Meski demikian, kenyataan di lapangan berbeda. Beberapa kompleks yang dipantau tetap berdiri utuh, seperti Kompleks Gunung Kapur Bawah yang berbatasan dengan Alur Janda, dan Kompleks Kapuran Atas yang berdekatan dengan Kompleks Pagar Senk. Namun di Kompleks Tanah Merah, base-camp penambang dilaporkan ludes terbakar. Perbedaan nasib ini menimbulkan dugaan adanya unsur kesengajaan atau motif pribadi, bahkan ada yang menyebut kemungkinan tindakan karena “sakit hati”.



Hingga berita ini diturunkan, Ketua Satgas Provinsi Maluku, Dr. Djalaluddin Salampessy, belum dapat dihubungi untuk dimintai keterangan mengenai insiden kebakaran di Kompleks Tanah Merah dan Kompleks Gunung Batu. Kepala Dinas ESDM Provinsi Maluku, Abdul Haris, juga tidak dapat dihubungi melalui WhatsApp saat dihubungi oleh wartawan.
Rincian penempatan personel di lima pos yang dipantau adalah sebagai berikut:
1. Pos Tanah Merah — 40 personel.
2. Pos Gunung Batu — 40 personel.
3. Pos Longsoran — 40 personel.
4. Pos Alur Janda — 40 personel.
5. Pos Anahoni — 56 personel.
Setiap pos personel gabungan dipimpin oleh seorang perwira pengendali berpangkat IPDA, menurut keterangan yang diterima redaksi.
Selain kebakaran dan penempatan aparat, hasil pantauan di lapangan menunjukkan masih adanya aktivitas penambangan dengan metode rendaman di sejumlah kompleks wilayah ilegal Gunung Botak. Kondisi ini memperlihatkan bahwa upaya penertiban belum sepenuhnya menghentikan aktivitas tambang ilegal di area tersebut. (Tim)

