Pers

Ketum JMSI Minta Polisi Lindungi Wartawan, Respon Kekerasan Saat Liputan Demo di Denpasar

Loading

TERASNKRI.COM | DENPASAR, BALI – Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Dr Teguh Santosa, angkat suara terkait dugaan kekerasan terhadap dua jurnalis di Bali saat meliput aksi demonstrasi di Denpasar, Sabtu (30/8/2025). Teguh meminta aparat kepolisian di lapangan mengikuti instruksi Mabes Polri untuk memberi perlindungan kepada wartawan yang sedang bertugas.

“Bagaimanapun situasi di lapangan begitu menegangkan, polisi seharusnya memberi perlindungan kepada teman-teman wartawan. Jangan sampai mereka justru menjadi korban kekerasan,” tegas Teguh di Denpasar, Minggu (31/8/2025).

Baca Juga  Ketua JMSI Kaltara Apresiasi Diskusi KUHP Terkait Pers di UBT

Teguh menyebut telah mendapat laporan adanya intimidasi dan perlakuan tidak menyenangkan terhadap jurnalis saat meliput aksi di dua lokasi, yakni kawasan sekitar Polda Bali dan DPRD Bali. Dua wartawan yang menjadi korban adalah Fabiola Dianira dari detikBali.com dan Rovin Bou dari Balitopik.com.

Kasus pertama dialami Fabiola saat hendak mengambil foto dugaan aparat yang tengah menangkap seseorang. Ia dihardik tiga orang yang diduga aparat, bahkan dipaksa memperlihatkan isi galeri ponselnya meskipun belum sempat mengambil gambar. Kedua tangannya sempat dipegang paksa, ponselnya dirampas, dan salah satu pelaku bahkan memperlihatkan gestur hendak memukul. Peristiwa itu membuat Fabiola syok dan trauma.

Baca Juga  HUT ke-6 JMSI dan HPN: Teguh Santosa Usulkan Perlindungan HAM bagi Pengelola Media

Sementara Rovin Bou mendapat perlakuan kasar saat melakukan siaran langsung melalui TikTok di depan Kantor Ditreskrimsus Polda Bali. Beberapa aparat menghampiri, mencengkeram tubuhnya, serta merampas gawai dan tas. Meski sudah mengaku wartawan, pernyataannya sempat tidak dipercaya karena tidak memperlihatkan kartu pers. Rovin akhirnya dilepaskan setelah seorang rekan wartawan membenarkan identitasnya.

Baca Juga  JMSI Kaltara Gelar Rakerda 2026, Fokus Literasi Media dan Konsolidasi Organisasi

Teguh menegaskan, polisi perlu memperhatikan agar insiden serupa tidak terulang. Di sisi lain, ia juga mengingatkan wartawan agar selalu menunjukkan identitas jelas ketika meliput di lapangan. “Agar petugas tidak salah paham atau menyamakan wartawan dengan kelompok massa yang melakukan aksi,” ujarnya. (TN/JMSI Kaltara)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *