Sosok

Profil Tokoh: Prof. Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A., Sang Penjaga Benteng Akidah dari Gontor

Loading

TERASNKRI.COM | – Di dunia pendidikan Islam Indonesia, nama Prof. Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A., dikenal bukan hanya sebagai pemimpin institusi, tetapi juga sebagai benteng intelektual dalam bidang ilmu Kalam dan Filsafat Islam. Sebagai putra dari salah satu Trimurti pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, K.H. Imam Zarkasyi, ia membawa warisan besar pendidikan pesantren menuju panggung akademik global.

Jejak Akademik Lintas Benua

Lahir di Ponorogo pada 4 November 1947, Kyai Amal memulai pengabdiannya sejak lulus dari KMI Gontor pada tahun 1969. Haus akan ilmu, ia menempuh perjalanan panjang pendidikan dari IAIN Sunan Ampel Surabaya, hingga merambah ke Universitas Kairo, Mesir. Di sana, ia mendalami Filsafat Islam di Fakultas Darul Ulum, sebuah kawah candradimuka bagi cendekiawan Muslim dunia.

Puncaknya, ia meraih gelar Doktor dari Universiti Malaya, Malaysia, dengan disertasi mendalam mengenai konsep tauhid Ibnu Taymiyyah. Bekal akademik lintas negara inilah yang menjadikannya sosok profesor yang moderat namun tetap kokoh dalam prinsip akidah.

Transformator Universitas Darussalam Gontor

Salah satu warisan terbesarnya adalah transformasi Institut Studi Islam Darussalam (ISID) menjadi Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor pada tahun 2014. Sebagai Rektor pertama UNIDA Gontor (2014-2020), ia berhasil mengintegrasikan pola pendidikan mu’allimin dengan sistem universitas modern.

Di bawah kepemimpinannya, UNIDA Gontor tidak hanya menjadi pusat studi agama, tetapi juga pusat ilmu pengetahuan yang berbasis pada nilai-nilai Islam. Pada tahun 2014, ia dikukuhkan sebagai Guru Besar (Profesor) di bidang Ilmu Kalam, sebuah pengakuan atas kepakarannya dalam menjaga kepercayaan umat dari arus pemikiran skeptisisme dan sekularisme.

Menjaga Akidah di Era Kontemporer

Pemikiran Kyai Amal sangat relevan dengan tantangan zaman. Ia berpendapat bahwa Ilmu Kalam harus menjadi alat untuk melindungi akidah dari kebohongan dan keragu-raguan (syubuhat). Ia menawarkan dua metode utama: metode filsafat untuk argumentasi rasional dan metode ilmiah yang bertumpu pada hasil penelitian.

“Ilmu Kalam harus menjawab tantangan kontemporer tanpa meninggalkan kaidah syar’iyyah,” ungkapnya dalam berbagai kesempatan.

Kepemimpinan di Pondok Modern Gontor

Tahun 2020 menjadi babak baru dalam hidupnya. Menyusul wafatnya K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi dan K.H. Syamsul Hadi Abdan, Badan Wakaf Gontor menunjuk Kyai Amal sebagai salah satu Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor. Tugas ini menuntutnya kembali ke akar, menjaga ribuan santri agar tetap teguh pada nilai-nilai perjuangan Gontor.

Selain di pondok, ia aktif memimpin Forum Komunikasi Pesantren Mu’adalah (FKPM), sebuah wadah bagi pesantren-pesantren di Indonesia untuk mendapatkan penyetaraan kurikulum tanpa kehilangan jati diri salafnya.

Warisan Pemikiran melalui Tulisan

Produktivitasnya juga tertuang dalam berbagai buku referensi, seperti Theology Hindu Dharma dan Islam (1996), Ilmu Kalam (1998), hingga disertasi terkenalnya yang mengulas sejarah pemikiran Salafi di Indonesia.

Prof. Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi adalah sosok yang membuktikan bahwa pesantren bisa sejalan dengan kemajuan universitas, dan iman yang kokoh adalah fondasi terbaik bagi ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Kini, di usia yang telah melampaui tujuh dekade, ia terus mengabdi untuk umat, memastikan cahaya pendidikan dari Gontor terus menyinari Nusantara. (TN/Berbagai Sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *