Penanganan TBC di Kaltara, Edukasi dan Kolaborasi Harus Digencarkan
![]()

TERASNKRI.COM | TANJUNG SELOR, KALTARA — Anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Utara (Kaltara), Rahman, menyampaikan perhatian serius terhadap isu tuberkulosis (TBC) yang masih menjadi tantangan kesehatan nasional, termasuk di wilayah Kaltara. Rahman menilai perlunya penguatan strategi penanganan, terutama melalui edukasi masyarakat dan kolaborasi lintas sektor hingga ke tingkat lokal.
“Persoalan TBC bukan hanya soal medis. Ada dimensi sosial yang ikut menghambat penanganan. Karena itu pendekatan yang dilakukan harus komprehensif dan berbasis kolaborasi,” ujar Rahman.

Menurutnya, penanganan TBC akan lebih efektif jika pemerintah dapat memperkuat peran RT, desa, kader kesehatan, tokoh masyarakat, dan organisasi sosial. Ia mengatakan pelibatan banyak pihak memungkinkan proses skrining lebih cepat, pelacakan kontak lebih tertata, serta pendampingan pasien lebih optimal selama masa pengobatan.
Rahman menekankan bahwa edukasi publik harus menjadi prioritas. Ia menyebut stigma terhadap pasien TBC masih menjadi tembok besar yang menghalangi masyarakat untuk memeriksakan diri sejak dini.

“Selama masyarakat masih takut mengakui gejala, kita akan selalu tertinggal dalam upaya eliminasi. Kita perlu membangun kesadaran bahwa TBC bisa sembuh, dan pengobatannya gratis. Itu informasi yang harus sampai ke rumah-rumah,” tegasnya.
Rahman juga menyoroti data nasional yang menunjukkan masih rendahnya keberhasilan terapi TBC Resisten Obat (RO). Menurutnya, keberhasilan pengobatan dapat meningkat apabila pasien mendapat dukungan nutrisi, pendampingan, serta pemantauan efek samping secara rutin.

Ia menilai langkah pemerintah memperluas skrining melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG), mobile X-ray, dan integrasi layanan TB di fasilitas kesehatan merupakan upaya yang patut diperkuat di Kaltara, terutama di daerah yang sulit dijangkau.
Komisi IV, lanjut Rahman, siap mendukung sinergi pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan dalam eliminasi TBC. Ia menyebut target Indonesia Bebas TBC 2030 hanya dapat dicapai apabila upaya pencegahan dan penanganan dilakukan secara konsisten dan menyeluruh.
“Penanganan TBC adalah investasi kemanusiaan. Setiap pasien yang sembuh berarti satu mata rantai penularan terputus. Kita harus bergerak bersama,” tutupnya. (adv)

